Edisi I Kepulangan Rara Hidup itu pertualangan, pertempuran. Dan kita adalah prajurit dengan segudang senjata untuk menumpas lawan, b...
Edisi I
Kepulangan Rara
Hidup itu pertualangan, pertempuran. Dan kita adalah prajurit dengan segudang senjata untuk menumpas lawan, bahkan bisa untuk melukai diri kita sendiri. tak perlu bicara banyak dalam hidup, karena Ia tak akan mendengarkan suara lantang kita. Lakukan yang terbaik, karena tidak akan lama lagi kita sudah didunia yang berbeda, dari waktu, suasana dan tempat. Dunia dimana kita berada disini dengan kehidupan yang panjang, kekal dan selamanya.
Kepulangan Rara
Hidup itu pertualangan, pertempuran. Dan kita adalah prajurit dengan segudang senjata untuk menumpas lawan, bahkan bisa untuk melukai diri kita sendiri. tak perlu bicara banyak dalam hidup, karena Ia tak akan mendengarkan suara lantang kita. Lakukan yang terbaik, karena tidak akan lama lagi kita sudah didunia yang berbeda, dari waktu, suasana dan tempat. Dunia dimana kita berada disini dengan kehidupan yang panjang, kekal dan selamanya.
MATI, satu kata yang bersebrangan dengan HIDUP. Namun sangat erat hubungannya walaupun mereka berdua kaga saudaraan.
Sampai tulisan ini tertera dalam blog suci ini, hanya kata itu yang aku takutkan. Tentu kalian juga takut akan dengan hal ini.
"Melki, kita tidak pernah tahu kapan penyakit itu datang,
bahkan kematianpun selalu mengikuti kita setiap waktunya" kata Dr. Indra sambil memberikan hasil check up bulananku. Ini beda samap tagihan internet, cuma ada sedikit kesamaan di form bill nya, tertera Rp. sekian.
Sudah setahun terakhir ini gw jadi langganan pribadi Dr. Indra.
"Apa kita tidak berhak bahagia lebih lama dok?" tanyaku sambil memasukan kertas hasil check up ke tas kecil yang aku bawa.
Sambil tersenyum dia seolah menyemangatiku
"bahagia itu ada disini mel" seraya menunjuk dadaku.
Benar kata Dr. Indra "Bahagia Itu Ada di Daerah Dalam Sebelah Kiri Dada Kita" jangan terlalu menuntut dalam hidup. kita harus menerimanya dengan hati yang lapang, maka kita akan selalu merasakan bahagia.
aku bangkit dari tempat tidurku menuju ke cermin, aku pandangi waja lusuhku,kelopak mataku sudah mulai celong. terbesit tanya "apa mungkin tidurku malam ini akan mengantarkan ku kepada sang Pencipta?"
aku mulai putus asa, tapi aku harus bisa demi semua, demi cita-cita, keluarga dan orang-orang terdekatku.
Pagi ini aku bersemangat untuk bangun pagi, karena ada hal yang beda untuk hari ini. Aku janji untuk menjemput Rara, teman dekatku. Aku sudah lama menaruh hati padanya, tapi aku tak pernah menyatakan itu pada Rara, alasannya TAKUT. Sudah lebih setahun kita ga ketemu, setelah perpisahan sekolah dia melanjutkan belajar di sebuah Universitas Negeri di Semarang. dan kita hanya bisa komunikasi lewat telpon dan pesan, atau lebih sering menggunakan messanger BBM.
dan aku juga tahu Rara sekarang menjalin hubungan dengan kakak tingkatnya di kampus, dia sering cerita tentang Al, ya namanya Alfi. dan aku selalu sukses menjadi pendengar yang baik buat Rara.
Selesai mandi dan menyiapkan semua, aku langsung bergegas menuju bandara. sekitar setengah jam aku menunggu. akhirnya Rara sampai juga.
"Rara!" aku memanggil sosok cantik yang sangat aku kenal.
Sambil melambaikan tangan dia menghampiriku.
"lama ya nunggunya?" tanya Rara dengan senyum khasnya yang menggambarkan 2 lesung dipipinya.
Sungguh menarik dan cantik, selain baik Rara juga orang yang supel dalam bergaul, itulah yang membuat aku betah.
"hmmmm" aku hanya bergumam.
"sorry, pesawatnya delay hampir satu jam tadi pak". dengan nada bicara yang dimanja-manjain, yang selalu berhasil membuat aku luluh.
"kamu ko gendutan sih Ra" kataku sambil memutari Rara.
"aku yang gendutan apa kamu yang kurusan?" kata Rara mengejek.
"aku udah sering makan yang bergizi loh, Ra" dengan nada pura-pura bingung.
Rara hanya tertawa kecil.
"kamu itu ya, ga berubah juga dari dulu, celutukan garingmu ituloh yang bikin aku betah kalo lagi sama kamu"
kata Rara sambil mencubit kecil perutku.
"kenapa kita ga jadian dari dulu kalo kamu betah sama aku" kataku menjibir.
"aku ga mau kehiilangan temen sehebat kamu, Mel"
"ntar ga ada yang bisa bikin aku ketawa lagi dong kalo lagi sedih".
"jadi kamu mau temen sama aku cuma gara-gara itu doang? gimana kalo aku kaya orang- biasa yang ga hobi humor, bisany diem aja?" kataku pura-pura ngambek.
"aduhhhh pak, udah deh bukan zaman kita lagi untuk lebay-lebayan" kata Rara sambil menggendong tasnya.
"yuk cabut, bentar lagi bandar ini mau tutup loh"
akhirnya kita berdua bangkit, dan mencari taksi. didalam perjalanan menuju rumah Rara banyak cerita yang kami bagi, dari pertama dia bisa kenalan sam si Al, sampe dia pernah ketiduran dikampus akibat semalaman curhat sama aku.
dan sekarang aku ada teman untuk menjalani aktivitas sehari-hari, walaupun Rara cuma 2 minggu disini. tapi dalam 2 minggu kedepan setidaknya aku tidak kesepian, karena seorang sahabat ada disampingku, tidak seperti hari-hari kemaren.
dan aku juga tahu Rara sekarang menjalin hubungan dengan kakak tingkatnya di kampus, dia sering cerita tentang Al, ya namanya Alfi. dan aku selalu sukses menjadi pendengar yang baik buat Rara.
Selesai mandi dan menyiapkan semua, aku langsung bergegas menuju bandara. sekitar setengah jam aku menunggu. akhirnya Rara sampai juga.
"Rara!" aku memanggil sosok cantik yang sangat aku kenal.
Sambil melambaikan tangan dia menghampiriku.
"lama ya nunggunya?" tanya Rara dengan senyum khasnya yang menggambarkan 2 lesung dipipinya.
Sungguh menarik dan cantik, selain baik Rara juga orang yang supel dalam bergaul, itulah yang membuat aku betah.
"hmmmm" aku hanya bergumam.
"sorry, pesawatnya delay hampir satu jam tadi pak". dengan nada bicara yang dimanja-manjain, yang selalu berhasil membuat aku luluh.
"kamu ko gendutan sih Ra" kataku sambil memutari Rara.
"aku yang gendutan apa kamu yang kurusan?" kata Rara mengejek.
"aku udah sering makan yang bergizi loh, Ra" dengan nada pura-pura bingung.
Rara hanya tertawa kecil.
"kamu itu ya, ga berubah juga dari dulu, celutukan garingmu ituloh yang bikin aku betah kalo lagi sama kamu"
kata Rara sambil mencubit kecil perutku.
"kenapa kita ga jadian dari dulu kalo kamu betah sama aku" kataku menjibir.
"aku ga mau kehiilangan temen sehebat kamu, Mel"
"ntar ga ada yang bisa bikin aku ketawa lagi dong kalo lagi sedih".
"jadi kamu mau temen sama aku cuma gara-gara itu doang? gimana kalo aku kaya orang- biasa yang ga hobi humor, bisany diem aja?" kataku pura-pura ngambek.
"aduhhhh pak, udah deh bukan zaman kita lagi untuk lebay-lebayan" kata Rara sambil menggendong tasnya.
"yuk cabut, bentar lagi bandar ini mau tutup loh"
akhirnya kita berdua bangkit, dan mencari taksi. didalam perjalanan menuju rumah Rara banyak cerita yang kami bagi, dari pertama dia bisa kenalan sam si Al, sampe dia pernah ketiduran dikampus akibat semalaman curhat sama aku.
dan sekarang aku ada teman untuk menjalani aktivitas sehari-hari, walaupun Rara cuma 2 minggu disini. tapi dalam 2 minggu kedepan setidaknya aku tidak kesepian, karena seorang sahabat ada disampingku, tidak seperti hari-hari kemaren.